Home » Artikel » Dakwah Jamaah Muhammadiyah: Perspektif dan Gerakan
Dakwah Jamaah Muhammadiyah: Perspektif dan Gerakan

Dakwah Jamaah Muhammadiyah: Perspektif dan Gerakan

1. Dakwah artinya mengajak / menyeru: ادع. Dakwah bukan menafikan / menegasikan. Contohlah para ulama dan imam madzhab, dakwah mereka, meskipun beda pendapat, tidak saling menafikan (menganggap yang lain tidak ada), apalagi saling menyerang. Jangan sampai kita berdakwah tetapi melenceng dari nilai-nilai dan prinsip dakwah itu sendiri.

2. Dakwah = mengajak. Mengajak kemana; dengan apa; siapa yang mengajak; siapa yang diajak?

Dakwah mengajak kepada yang benar (Islam). Itulah yang benar. Dakwah yang mengajak kepada bukan yang benar (bukan Islam), itu bukan dakwah dalam pengertian yang kita pahami. Maka, dai mesti tahu mana yang benar dan mana yang tidak benar. Mana yang perlu didakwahkan mana yang tidak perlu.

Dakwah dalam kebersamaan dirasa semakin langka, karena egosentrisme golongan, akibatnya dakwahnya menang-menangan. Lho, dakwah kok menang-menangan; itu kompetisi namanya. Dakwah itu bukan kompetisi, tapi komplementer; saling melengkapi, saling mengisi, saling menguatkan. Muhammadiyah harus jadi pelopor dan teladan dalam merekatkan dakwah kebersamaan. Umat Islam Indonesia merindukan suasana itu.

3. Kebenaran bukan sekedar pengetahuan, tetapi sikap. Kebenaran bukan sekedar ILMU, tetapi juga AMAL. Maksudnya, kebenaran bukan hanya dipahami dan dimengerti, tetapi harus pula dikerjakan. Kebenaran yang tidak diamalkan tidak ada artinya.

Kita berdakwah bukan sekedar mengajak mengetahui kebenaran; kalau begitu orang Jawa menyebutnya “ngaji kuping”. Akan tetapi lebih dari itu mengajak orang menjadi benar. Jadi, barometer dakwah kita bukan seberapa banyak teori kebenaran yang disampaikan, tetapi seberapa banyak orang yang kita dakwahi sudah menjadi benar. Ini namanya dakwah kualitatif; dakwah substantif.

4. Dengan cara apa kita berdakwah? Dengan Hikmah, Mauidhoh, dan Mujadalah bil-latii hiya ahsan . Itu leveling metode dakwah menurut Al-Quran.

(ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ) [سورة النحل 125

Hikmah itu artinya benar dan tepat, mendapat taufik dan ridho Allah. Benar saja tapi tidak tepat, maka menjadi kurang benar. Contoh: saya bertamu ke Rumah Bapak H. Baedhowi, begitu masuk saya ngomong: “Pak Haji, tolong kalau nanti nyuguh makanan jangan pakai daging babi ya, soalnya bagi saya haram, tidak akan saya makan.”

Perkataan itu benar, tetapi tidak tepat. Mengapa? Karena ditujukan kepada Pak. H. Baedhowi yang seorang mukmin, dan tanpa saya berkata hal itu pun saya yakin tidak mungkin beliau akan nyuguh saya dengan makanan haram. Nah, ini namanya benar dan tepat.

Al-Quran sdh menyontohkan, silahkan buka Qs. Al-Baqarah: 168 dan 172.

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ) [سورة البقرة 168]

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ) [سورة البقرة 172]

“Wahai manusia, makanlah yang halal dan yang baik…”; itu ayat 168. Kepada manusia, baik mukmin maupun kafir perintahnya makan yang halal dan baik.

Coba perhatikan ayat 172: “Wahai orang-orang beriman, makanlah yang baik-baik…”. Kepada orang beriman, perintah halalnya hilang? Artinya, kalau sesama orang beriman halal haram itu sudah mafhum, sudah kelewat. Jika mukmin satu sama lain masih debat halal haram, maka derajatnya turun lagi ke umum (wahai manusia).

Perhatikan, bagaimana Allah menyapa kita melalui kedua ayat itu. Ini bisa jadi metode dakwah bil-hikmah. Jadi, meskipun substansinya benar, tetapi kalau menyampaikannya tidak tepat maka bukannya memperbaiki, mungkin malah bisa merusak.

5. Jamaah atau berjamaah itu salah satu tema sentral dalam Islam. Bahkan aqidah yang benar adalah ahlus-sunnah wal jamaah. Ini sudah mujma’ alaihi ; sesuatu yang disepakati bersama oleh semua ulama sepanjang masa.

Tetapi jangan menyempitkan makna ahlus-sunnah wal jamaah, apalagi membawanya dalam bingkai ormas atau madzhab fiqh. Perhatikan dan baca ulang apa itu definisi ahlus-sunah wal jamaah. Nah, Muhammadiyah harus menjadi bagian dari ahlus-sunnah wal jamaah dalam pengertian yang benar.

6. Hampir semua perintah ibadah mahdhoh dilakukan berjamaah: shalat, puasa, dan haji. Shalat adalah gambaran berjamaah paling demonstratif.

Pahala shalat berjamaah 27 kali lipat dibanding shalat sendiri, itu Hadis Nabi yang sangat masyhur. Ilustrasinya begini: jika saya shalat rakaat pertama masih sendiri, maka pahala hanya satu. Kemudian rakaat kedua datang seorang jamaah makmum, maka rakaat kedua pahalanya 27 x 2, karena masing-masing dapat 27. Lalu, rakaat ketiga datang satu bus berjumlah 50 orang ikut makmum, maka pahalanya menjadi 27 x 52. Begitulah rumus matematika berjamaah.

Semakin banyak yang bergabung, bersinegri, berkolaborasi, maka potensinya bisa tak terhingga. Inilah pendidikan berjamaah melalui shalat. Saatnya kita gerakkan umat untuk berjamaah bukan saja saat shalat, tapi juga berjamaah dalam ekonomi, berjamaah dalam pendidikan, berjamaah dalam kesehatan, termasuk berjamaah dalam politik.

Dakwah jamaah harus bisa dimaknai dalam konteks yang lebih dinamis dan produktif. Jangan hanya dipahami dari sisi kuantitas, dakwah jamaah artinya jamaahnya banyak. Kalau bisa kita jangan hanya dihitung oleh orang luar, tapi diperhitungkan.

7. Dalam konteks dakwah jamaah Muhammadiyah, menurut saya ada dua pendekatan: internal dan eksternal. Jika mukhotib (dai) dan mukhotob (audiens) sama-sama warga Muhammadiyah, internal, maka yang berlaku adalah konsep penguatan. Silahkan warga Muhammadiyah dikuatkan nilai-nilainya, cita-citanya, gerakannya, soliditas dan militansinya.

Salah satu ciri Muhammadiyah adalah gerakan jamaah, bukan sekedar pengajian jamaah. Jadi, orang Muhammadiyah itu kalau kumpul pertama kali yang dibicarakan ide / gagasan. Kumpul kedua bawa harta utk wakaf dan sedekah. Kumpul yang ketiga, gotong royong peletakan batu pertama dan pembangunan. Kumpul yang keempat peresmian amal usaha. Inilah tradisi gerakan Muhammadiyah yang dinamis.

8. Akan tetapi, jika _mukhotib_nya orang Muhammadiyah, sedangkan _mukhotob_nya bukan warga Muhammadiyah, atau sebaliknya, maka yang berlaku adalah konsep persatuan (ukhuwah).

Ini yang harus dipahami bersama. Jangan sampai mukhotib dan _mukhotob_nya berbeda yang disampaikan adalah ajaran internal, nanti bisa-bisa yang terjadi adalah fitnah pada umat.

Contoh: jika mukhotib,nya Muhammadiyah dan mukhotob_nya umum, maka saya kira tidak perlu bahas ada tidaknya qunut dalam shalat Subuh. Tetapi, bahas saja keutamaan shalat Subuh: ada puluhan ayat dan Hadis yang berbicara tentang itu. Kalau pun terpaksa bahas qunut, bahaslah dari sudut pandang yang beragam sesuai dengan yang telah dirumuskan dalam madzhab-madzhab empat yang ada yang _mu’tabar (otoritatif). Bahasan khilafiyyah fiqhiyyah sdh 12 abad berlangsung, sudah puluhan ribu jilid kitab membahasnya, tinggal buka, baca, kaji dan amalkan.

Dakwah jamaah secara eksternal yang dikedepankan adalah tema-tema persatuan, kebangkitan, dan nilai-nilai Islam secara umum. Ribuan ayat dan ribuan Hadis yang tidak khilafiyyah kalau disampaikan satu per satu kepada umat, insyaAllah tidak akan habis umur kita.

9. Dai harus berwawasan, bukan sekedar berilmu. Ilmu tanpa wawasan akan terasa hambar. Wawasan tanpa ilmu akan terasa kering. Dai hrs mampu membaca tren masa depan. Dai menjadi juru bicara Islam sekaligus menjadi model. Jangan asal-asalan dan jangan salah.

Disampaikan oleh: KH. Anang Rikza Masyhadi, MA
(Pimpinan Ponpes Tazakka, Batang; Pendiri PCIM Mesir)

Pagilaran, 22 Okt 2017
ditranskrip oleh
Hilmi Ghifaria
(Sekpim Tazakka)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Timber by EMSIEN 3 Ltd BG